Photobucket

Monday, April 13, 2009

ERAT '09

Assalamualaikum wbt..

Khas buat lepasan SPM, STPM dan STAM 2008; program ini khas untuk anda!

EKSPRESI REMAJA AMBANG IPT
-- ERAT '09 --

Forum: Persimpangan Cinta dan Cita-Cita | Ayuh Kenal Yuk! | Latihan Dinamika Kumpulan | Presentasi: Eksplorasi Menara Ilmu | Ceritera Sukses: Resipi Kejayaan Mahasiswa Muslim | Tafakur Alam Rimba! | Cergas Cetus Cerdas | Malam Nurani Intepretasi Seni | R&R Kerjaya dan IPT | Forum: Langkah Menuju Jaya | Ceritera Sukses: Misi Agung Mahasiswa Muslim |dan banyak lagi!


Tarikh: 24 April -- 26 April 2009 (Jumaat -- Ahad)
Lokasi: UIAM Gombak dan Rebutia D'Perkasa Camp
Anjuran: Kelab Rakan Siswa Islah Malaysia (Karisma) dan Pertubuhan Jamaah Islah Malaysia (JIM)
Yuran: RM 30 sahaja!

Di antara testimoni peserta:

"Bagi saya program ini menyeronokkan kerana telah berjaya membuka hati saya kepada kepentingan hidup secara Islam dan nikmat Islam yang cukup cantik dan tersusun." -- Mohd Harith Kamaludin, Kolej Mara Seremban

"Program ini menyeronokkan. .. Boleh dilihat pada pengisian program ini penuh dengan ilmu. Selain itu, jemputan penceramah luar juga menunjukkan program tersebut tidak diabaikan dan mendapat sambutan ramai. Aktiviti yang dijalankan juga dapat menarik remaja." -- Ihsan Alwi, Kolej Matrikulasi Pahang

"Saya sudah mencubanya, anda bila lagi?" -- Harith Md Nasir, UTM Kuala Lumpur

Untuk maklumat lanjut, sila klik;

Thursday, April 9, 2009

Da'ie, berdayalah untuk ISLAM.

Makna Tarbiyah itu sendiri adalah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus-menerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunnahnya. Sebab kalau mahu, para Sahabat Rasulullah SAW bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus-menerus tinggal ber-mulazamah tinggal di Masjidil Haram yang nilainya sekian ratus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa makam para Sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Mala, tetapi makam mereka banyak bertebaran jauh, beribu-ribu mil dari negeri mereka.


Sesungguhnya mereka mengutamakan adanya makna diri mereka sebagai perwujudan firman-Nya : Wal takum minkum ummatuy yad'una ilal khair. Atau dalam firman-Nya : Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaas (QS : Ali imran : 110). Ummat yang baik tidak untuk disembunyikan tetapi untuk ditampilkan kepada seluruh ummat manusia. Inilah sesuatu yang perlu kita jaga dan perhatikan. Kita semua beramal tapi tidak larut dalam kesendirian. Hendaklah ketika sendiri kita selalu mendapat cahaya dan menjadi cahaya yang menyinari lingkungan sekitarnya.

Jangan lagi ada kader yang mengatakan, saya jadi buruk begini karena lingkungan. Mengapa tidak berkata sebaliknya, karena lingkungan seperti itu, saya harus mempengaruhi lingkungan itu dengan pengaruh yang ada pada diri saya. Seharusnya dimanapun dia berada ia harus berusaha membuat kawasan-kawasan kebaikan, kawasan cahaya, kawasan ilmu, kawasan akhlaq, kawasan taqwa, kawasan al haq, setelah kawasan-kawasan tadi menjadi sempit dan gelap oleh kawasan-kawasan jahiliyah, kezhaliman, kebodohan dan hawa nafsu. Demikianlah ciri kader, dimanapun dia berada terus-menerus memberi makna kehidupan. Seperti sejarah da'wah ini, tumbuh dari seseorang, dua orang kemudian menjadi beribu-ribu atau berjuta-juta orang.


Sangat indah ungkapan Imam Syahid Hasan Al Banna,Antum ruhun jadidah tasri fi jasadil ummah. Kamu adalah ruh baru, kamu adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh ummat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al Qur'an. Jangan ada sesudah ini, kader yang hanya mengandalkan kerumunan besar untuk merasakan eksistensi dirinya. Tapi, dimanapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah SWT., ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah SWT., baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan terlihat orang. Kemanapun pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut atau terasing karena Allah senantiasa bersamanya. Bahkan ia dapatkan kebersamaan Rasul-Nya, ummat dan alam semesta senantiasa.

Kehebatan Namrud bagi nabi Ibrahim AS tidak ada ertinya, tidaklah sendirian. Allah bersamanya dan alam semesta selalu bersamanya. Api yang berkobar-kobar yang dinyalakan Namrud untuk membinasakan dirinya, ternyata satu korps denganya dalam menunaikan tugas pengabdian kepada Allah. Alih-alih dari menghanguskanya, justeru malah menjadi bardan wa salaman (penyejuk dan penyelamat). Karena itu, kader sejati yakin bahwa Allah SWT akan senantiasa membuka jalan bagi pejuang da'wah sesuai dengan janji-Nya, intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum (jika kamu menolong Allah, Ia pasti menolongmu dan mengukuhkan langkahmu).


Semoga para kader mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari Allah SWT di tengah derasnya arus dan badai perusakan ummat. Kita harus yakin sepenuhnya akan pertolongan Allah SWT dan bukan yakin dan percaya pada diri sendiri. Masukkan diri dalam benteng-benteng kekuatan usrah atau halaqah tempat junud da'wah melingkar dalam satu benteng perlindungan, menghimpun bekal dan amunisi untuk terjun ke arena pertarungan haq dan bathil yang berat dan menuntut pengorbanan. Disanalah kita mentarbiyah diri sendiri dan generasi mendatang. Inilah sebagian pelipur kesediaan ummat yang berkepanjangan, dengan munculnya generasi baru. Generasi yang siap memikul beban da'wah dan menegakkan Islam. Inilah harapan baru bagi masa depan yang lebih gemilang, dibawah naungan Al Qur'an dan cahaya Islam rahmatan lil alamin.

Merendahlah, engkau kan seperti bintang-gemintang Berkilau di pandang orang Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi Janganlah seperti asap Yang mengangkat diri tinggi di langit Padahal dirinya rendah-hina.. (ALMARHUM Ust KH Rahmat Abdullah)


Halaqah-Online

Tuesday, March 17, 2009

Kuatkan Barisan, Raih kemenangan

BismiLLahirrahmanirraheem..

** ( Untuk besarkan tulisan, --> tekan CTRL+ )

Suatu saat Rasulullah saw. pernah bertanya kepada para sahabatnya:


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - : أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَكْرَمِ أَخْلاَقِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ؟ تَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ وَتُعْطِى مَنْ حَرَمَكَ وَتَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ

Nabi saw bersabda : “Mahukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang menzalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu.”

(HR. Baihaqi)


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan.” (H.R. Bukhari-Muslim).

“Mahukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada solat dan tsaum (puasa)?” Sahabat menjawab, “Tentu saja!” Rasulullah pun kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan orang yang sedang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menyatukan berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka, (semua itu) adalah amal soleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan.” (H.R. Bukhari-Muslim).

Saudaraku, dari hadis di atas dapat kita lihat bahwa betapa besar nilai sebuah jalinan persaudaraan. Oleh karena itu, memperkukuhkan ukhuwah islamiyah merupakan salah satu tugas penting bagi kita. Namun, bagaimanakah utk kita memastikan agar ruh ukhuwah tetap kukuh? Rahasianya ternyata terletak pada sejauhmana kita mampu bersungguh-sungguh untuk memiliki hati yang bersih dan selamat. Karena, kalbu yang kotor dipenuhi sifat iri, dengki, hasud, dan buruk sangka, pasti akan membuat pemiliknya melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang sekaligus dapat merosak ukhuwah. Mengapa? Sebab bila di antara sesama muslim saja sudah saling berburuk sangka, saling iri, dan saling mendengki, mana mungkin akan tumbuh nilai-nilai persaudaraan yang indah?

Sekali lagi Saudaraku, adakah rasa persaudaraan dapat kita rasakan dari orang yang tidak memiliki kemuliaan akhlak? Tentu saja tidak! Kemuliaan akhlak tidak akan pernah bersatu dengan hati yang penuh iri, dengki, ujub, riya, dan takabur. Di dalam hati yang kusam dan busuk inilah tersimpan benih-benih tafarruq (perpecahan) yang muncul dalam pelbagai bentuk permusuhan dan kebencian terhadap sesama muslim.

Dengan demikian, bila ada dua bangsa yang berperang, sekurang-kurangnya pasti salah satu di antara mereka adalah sekumpulan manusia buruk akhlak, tamak, dan terbius oleh gejolak nafsu untuk melemahkan pihak yang lain. Bila dua suku berseteru, setidaknya satu di antara mereka adalah manusia bermental rendah dan hina karena (mungkin) merasa sukunya lebih tinggi derajat kemuliaannya. Bila dua keluarga tak bertegur sapa, sekurang-kurangnya salah satunya telah terselimuti hawa nafsu, sehingga menganggap permusuhan adalah satu-satunya langkah yang bisa menyelesaikan masalah.

Selanjutnya, tanyakanlah kepada diri masing-masing. Adakah kita saat ini tengah merasa tidak enak hati terhadap teman, adik, kakak, abang atau bahkan ayah dan ibu sendiri? Adakah kita saat ini masih menyimpan kesal kepada teman seperjuangan karena ia lebih diperhatikan orang? Adakah kita saat ini masih menyimpan rasa ghill (dengki) terhadap saudara seiman sesama kader dakwah, lantaran mungkin nasibnya lebih baik dari kita?

Bila demikian halnya, mana mungkin terketuk hati ini ketika mendengar ada seorang muslim yang teraniaya, ada sekelompok masyarakat muslim yang diperangi? Mana mungkin kita mampu bangkit serentak manakala hak-hak muslim dirampas oleh kaum yang zalim? Mana mungkin kita mampu utk mengulangi kembali kejayaan umat Islam?

Nah, dari sinilah bermulanya langkah untuk merenung dan mengkaji semula sejauhmana kita telah memahami makna ukhuwah islamiyah. Karena, dari sini juga Rasulullah Saw memulakan amanah kerasulannya. Betapa Rasul menyadari bahwa menyempurnakan akhlak pada hakikatnya adalah mengubah karakter dasar manusia. Karakter akan berubah seiring munculnya kesadaran setiap orang akan jati dirinya. Oleh karena itu, menumbuhkan kesadaran adalah jihad karena kesadaran merupakan sebutir mutiara yang hilang tersapu oleh berlapis-lapis hawa nafsu.

Manakala saat kesadaran telah tersemai, jangan hairan jika Umar bin Khattab yang pemberang adalah manusia paling pemaaf kepada musuhnya yang telah menyerah di medan perang. Seorang sahabat meletakkan pipinya di tanah dan minta diinjak kepalanya oleh sahabat bekas hamba yang telah dihinanya. Para sahabat yang berhijrah bersama Rasul ke Madinah, dipertautkan dalam tali persaudaraan yang indah dengan kaum Anshar, sementara kaum Muslimin Madinah ini rela berbagi tanah dan tempat tinggal dengan saudara-saudaranya seiman seaqidah tersebut.

Saudaraku, kekuatan ukhuwah memang hanya dapat dibangkitkan dengan kemuliaan akhlak. Oleh karena itu, nampaknya kita amat merindukan pribadi-pribadi yang mampu mencoret keluhuran akhlak. Pribadi-pribadi yang pelbagai, sesederhana apa pun, adalah buah fikiran yang sekuat-kuatnya dicurahkan untuk meringankan atau bahkan memecahkan masalah-masalah yang bersarang pada dirinya sendiri maupun orang-orang di sekelilingnya sehingga berbicara dengannya selalu membuahkan kelapangan.

Tatapan matanya adalah tatapan bijak bestari sehingga siapa pun niscaya akan merasakan kesejukan dan ketenteraman. Wajahnya adalah cahaya cemerlang yang sedap dipandang lagi mengesankan karena ia memancarkan kejujuran itikad. Sementara itu, senyum yang tak pernah lekang menghias bibirnya adalah sedekah yang jauh lebih mahal nilainya daripada intan mutiara. Tak akan pernah terucap dari lisannya, kecuali untaian kata-kata yang penuh hikmah, menyejukkan, membangkitkan keinsafan, dan meringankan beban derita siapapun yang mendengarkannya.

Berjabat tangannya yang hangat adalah jabat tangan yang mempertautkan seerat-eratnya dua hati dan dua jiwa yang tiada terlepas, kecuali diawali dan diakhiri dengan ucapan salam. Kedua tangannya teramat mudah terulur bagi siapa pun yang memerlukannya. Sementara itu, bimbingan kedua tangannya, pastu selalu akan berada di majlis-majlis yang diberkati Allah Azza wa Jalla.

Dengan demikian, umat Islam harus berhijrah dari berpecahbelah menuju ukhuwah islamiyah, seraya menepis sisa-sisa jahiliyah dari hati ini. Memiliki qalbu yang bersih dan selamat harus berada ditempat paling tinggi dari segala-galanya agar kita mampu menilai diri dengan sebaik-baiknya dan menatap jauh ke depan agar Islam benar-benar dapat termanifestasikan menjadi rahmatan lil ‘aalamiin dan umat pemeluknya benar-benar menjadi “sebaik-baik umat” yang diturunkan di tengah-tengah manusia.

Wallahu a’lam..

-Dakwatuna-

Monday, March 9, 2009

Pemergianmu...

Bismillahirrahmanirraheem..



Allahumma solli 'ala Muhammad
wa baarik wa sallim 'alaih..


Monday, March 2, 2009

Pesona Cinta

Bismillah..

Tgh syok menyelongkar "my ftec" yg dah lama xdisentuh,
tiba² terdengar lagu ni, dah lama sgt xdengar..

Best! wording power! cuma agak kepuitisan.
Tiade kaitan dgn ape² kejadian mahupun peristiwa, harap maklum!
Sekadar mengajak diri dan sahabat² menghayati dan mengambil ibrah darinya..

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++







~>Please "STOP" MY MP3 at the right sidebar b4 u play this song, tQ!<~

Kau siramkan wangian mawar putih
Kepada sebuah kenangan yang layu
Bisakah merubah detik-detik yang berlalu
Dari sekadar impian yang kaku

Jiwa terpaut menyaksi
Seribu pengorbanan dihulur
Cinta kasihan bersemi
Mengagung tak disedari
Diimpi tak pasti
Mengharap tak mendakap
Kesetiaan dijunjung
Rupanya tak ke hujung

Lilin yang menyala membakari dirinya
Buat menerangi insan yang memerlukan
Tanpa disedari diri sendiri sirna
Duka nestapa dibiarkan saja

Begini jadinya bila dihamba pesona cinta
Yang buta tak mengenal sebenar sifatnya

Cinta suci bukan untuk dinodai
Kasih jangan dikhianati
Lamarlah belas simpati

Kesucian cinta
Ikhlas tak diundang
Perliharalah...